Jumat, 04 Maret 2011
ADAT
A D A T
Aturan & Dasar Alek Tradisional
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
( 1 ) BARALEK
Adat yang juga merupakan Aturan & Dasar dalam Alek Tradisional sesuai dengan arti dari adat itu sendiri yaitu tidak tertulis, tetapi suatu kebiasaan yang dilakukan secara turun temuran yang mengalami pelaksanaan tambah dan kurang sesuai dengan sikon.
Kalau di ikuti semua Aturan & Dasar dalam Alek Tradisional ( Baralek ), sungguh sangat banyak sekali dan sesuai dengan aturan yang datang dari kerajaan.
Kadang, adat alami bisa saja berobah seperti “ adat taluok timbunan kapa , adat bukik timbunan ambun, adat lurah rimbunan ayie “ dll.
Ada saatnya teluk tak berkapal,bukit tak berembun dan lembah tak berair.
Dalam acara Alek Tradisional ( Baralek ) banyak terdapat aturan baru dengan dasar Islami seperti acara “ mandi tigo, ba lapeh-lapeh, ba upah-upah, minum kopi, manjalang, tiduo di tampek, manggote “ boleh dikatakan tidak ada lagi dilaksanakan, karena saat sekarang ini,adat dipakai sesuka hati sesuai dengan selera dan kemampuan dan memperhitungkan agar mendatangkan untung.
Kalaulah dulu acara “ Jamba Anyuik “ adalah teruntuk para pekerja dengan masakan tradisi seperti “ gulai paku/pisang mudo /cubadak paranca lokan “ atau “ gorieng lauok masiek “, tetapi kini berobah dan hilang menjadi “ gulei kabuo/jawi/kambing “, “ randang lokan “, “ gorieng udang “, sebab yang datang bukan para pekerja lagi, tetapi orang yang diundang kian dengan suguhan “ Jamba Adat “ itu. Kenapa tidak ?? Acara “ Jamba Anyuik “ terpaksa dilayani dengan baik dan bagus, karena setelah selesai makan para undangan akan bersalaman dengan gumpalan uang kertas rupiah dalam genggaman beralih tempat ke saku yang di salami undangan. Jamba Anyuik yang tidak beradat itu dapat memberikan keuntungan kepada yang Baralek dan demikian juga di dalam acara resepsi yang disebut “ Bakibot “ itu dengan pemberian kado dari undangan. Pantas saja ada orang yang baru saja Baralek berciloteh “ Pulang Pokok “ atau “ Baruntuong Gale “.
Kadang terasa aneh juga dimana yang datang dalam acara “ Jamba Adat “ atau “ Makan Baradat “ itu hanya dihadiri oleh orang-orang tua “ menunggu waktu “, alim ulama, cerdik pandai tanpa pemberian dalam salam dengan jumlah dapat dihitung dengan jari. Karena adat bukan menghendaki “ paragie “, sedangkan yang datang untuk “ baragie “, maka mereka datang ketika acara “ Jamba Anyuik “ yang bukan lagi merupakan acara adat. Terkadang ada juga yang tidak melaksanakan acara adat itu karena tidak menguntungkan seperti “ makan baradat “ dan “ malam badendang “.
Adat tidak membebankan kepada orang banyak atas pelaksanaan acara Baralek walaupun itu sifatnya “ paragie “, tetapi menetapkan “ tanggung jawab berkaum famili “, sebab adat alami mengatakan “ nan angek di dakek tungku , nan dingin di dakek ayie “. Biaya Baralek di tanggung bersama dalam satu kaum itu sendiri dan dengan demikian makanya ada “ Pakat Sakoum “, yaitu orang yang berada dalam perkauman, baik yang satu peranakan (Sanak),sumando satu peranakan (Dosanak) maupun banyak sumando satu peranakan (Badosanak). Didalam pakat sakoum, ada yang menyediakan satu ekor kambing, satu goni beras,satu goni kelapa,satu goni cubadak dll.sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian pelaksanaan acara Baralek memakai adat penuh sesuai dengan Aturan & Dasar Alek Tradisional (ADAT) Ranah Nata. Pelaksanaannya pun memakai system mengirit seperti ” Jamba Anyuik “ yang merupakan “ dari koum ka koum “ dan tidak malu memberikan “ gulei tradisional “ dan para pekerja tidak gengsi memakan “ gulei tradisional “ karena itulah kemampuannya “ dari koum untuk koum “ itu. Makanya pada zaman dahulu ada “ Alek Randam “ yaitu kumpul bersama Sanak, Dosanak dan Badosanak untuk menghadapi segala sesuatunya agar pelaksanaan Baralek sanak famili itu tidak mengecewakan para undangan. Alek sekarang hanya mencari keuntungan semata, sebab dahulu petitih berkata “ Baralek karano lai “ dan bukan mengharapkan “ Paragie Urang Banyak “, jiran tetangga, kawan sekerja, teman sejawat, konco serantau dan sobat sapagaulan. Terserah…
( 2 ) PUAH MAMAK
Lambang Kebesaran dan Perasaan
Puah adalah sejenis tumbuhan sebangsa umbi-umbian tapi berbatang tinggi dan berdaun sama bentuknya dengan langkueh (lengkuas),sipade(jahe) dan kunik (kunyit). Makanya dikatakan Puah Mamak, karena potongan batangnya sepanjang 1 meter itu pada ujungnya dihancurkan sehingga seperti kuas. Keadaan tersebut di Ranah Nata disebut “ mamak / mumuk “.
Puah Mamak adalah sebagai pelambang kebesaran dan perasaan bagi yang membuat Paragat Puah Mamak tersebut, baik Baralek maupun Kematian dengan perbedaan cara memasangnya. Jika dalam acara Baralek, maka bari san puah mamak pada bagian belakang dan bendera condong keluar dan untuk acara kematian, puah mamak dibagian dalam dan bendera condong keluar. Adapun Paragat Puah Mamak itu terdiri dari ;
1. Puah Mamak sebanyak 7 potong yang melambangkan perasaan mamak/hancur. Dalam Baralek, hancurnya perasaan orang banyak, sebab sang anak berpisah dengan orangtuanya, sedangkan dalam ke matian hancurnya perasaan orangtua/suami/isteri atas meninggalnya salah seorang keluarga mereka.
2. Jerek Samato atau Jerek Bundo Kanduong sebanyak 7 buah yaitu suatu tanda pemikat kepada yang memandangnya agar terpikat untuk saling membantu ter hadap orang yang mengadakan acara Baralek dan yang ditimpa musi bah.
3. Bendera 7 helai yang terdiri dari 1 helai bendera Ula-ula ,pelambang kebesaran Rajo, 2 helai bendera batik sebagai kebesaran Dubalang, 2 helai kain batik sebagai pelambang kebesaran Panglimo dan 2 helai lagi sebagai pelambang kebesaran Dayang dan Panginang/Pengasuh.
4. Kain Songket 7 helai sebagai pelambang banyaknya etnis penghuni Ranah Nata ( 7 etnis ).
5. Perisai sebagai pelambang pertahanan.
6. Pedang 2 buah sebagai pelambang ketangkasan.
7. Kabou-kabou yang terbuat dari pelepah kelapa sebagai pelambang kesejahteraan. Dilengkapi dengan alat kesenian seperti canang,agung, talempong dan gendang muka satu (rebbana).
Ketika selesai acara “ Mamancak “ dilanjutkan dengan acara “ Badampieng “, diringi dengan pemukulan canang,agung,talempong dan gendang rebbana dengan irama khusus untuk itu. Sekarang, pemakaian/ pemasangan Puah Mamak hanya ada dibagian mudik dan hilir ibukota Ranah Nata yang di ibaratkan bagai “ Jantuong Pisang “ dan “ Tajang Anou “
MADINA YANG MADANI
Dimana Madina nan Madani ?
Sejak zaman Nabi Sulaiman As, Ranah Nata sudah dihuni oleh Bangsa Bugis dan Batak. Mungkin yang dimaksud Batak disini adalah Mandailing dan mungkin juga orang-orang Batak yang ada di Sibolga atau Tapanuli Tengah di Pesisir Barat Sumatera,karena dulunya jalur perhubungan melalui lautan.
Pada abad ketujuh Hijriah, Ibnu Bathutah datang ke Ranah Nata ( 1325 – 1345 ) dan menamai tempat ini Ranah Nata, sehubungan dengan sedang terjadinya tragedi hukuman yang dilaksanakan diatas sebuah bukit kecil yaitu Bukik Bandera. Ranah Nata berasal dari bahasa Arab yang artinya “ Jeritan di atas bukit kecil ”. Kemudian masuk Portugis ( 1492 – 1498 ) dan disebabkan panorama yang dimiliki Ranah Nata sama dengan indahnya Natal di Durban dan Africa Selatan, lalu mereka menamakan tempat ini Natal. Demikian juga datangnya Mangaraja Uhum dan pindah ke Ranah Nata dan karena melihat pemandangan yang indah di Tor Pangolat , maka mereka namakan Natar ( yang terindah ). Apapun nama yang diberikan oleh mereka, yang jelas aslinya adalah Ranah Nata, sesuai dengan lidah Masyarakat Adat Ranah Nata yang menyebutnya sampai sekarang ini. Natal , Natar atau Natolu , itu adalah nama samaran atau alias saja.
Pantas sekali penulis menyebutnya Serambi Makkah Mesir Madina, sebab Ranah Nata adalah Seram bi masuknya bangsa Arya ( Holing ) maupun Mande Hilang yaitu asal kata dari Mandailing, sedang kan Makkah adalah Malako dan itulah ibukota Kerajaan Ranah Nata. Mesir adalah singkatan dari Melayu Pesisir (Mesir) yaitu etnis Bangsa Ranah Nata yang berada di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
Ranah Nata menempuh masa emasnya pada tahun 1837 dan 1842 ketika menjadi bagian dari Air Bangis Sumatera Barat karena seadat,seagama,sebangsa dan sebahasa yaitu Melayu Pesisir ( Mesir ) . Kemudian Ranah Nata yang dari “ Lembah Sorik Marapi sampai ke tepi ombah yang berdebur “ atau “ Antaro Batu nan Ampek “ atau “ Batang Natolu”, kemudian dicabik dua menjadi Nata dan Batang Nata. Nata dibagi menjadi tiga bagian yaitu Kedewanan Nata,Batahan dan Singkuang yang kini men jadi Kecamatan Nata, Batahan dan Mubadis,sedangkan Batangnata dibagi dua yaitu Batangnata dan Linggabayu. Kemudian Batahan dicabik dua, Batahan dan Sinunukan dan Linggabayu dicabik dua pula yaitu Linggabayu dan Ranto Baek,sehingga Ranah Nata sudah dicabik tujuh bagian.
Kini , pecahan atau cabikan yang tujuh bagian itu akan dijahit dengan benang pemekaran Madi na dalam pamedangan Pantai Barat di Mandailing sehingga diberi nama Kabupaten Pantai Barat Mandailing ( Pabarling ). Ditinjau dari geografi, memang Ranah Nata terletak di pantai barat Sumatera dan Ranah Nata adalah bagian dari Mandailing. Sebenarnya kalimat ini adalah terbalik, sebab lebih dahulu adanya Ranah Nata yang merupakan Ranah tertua di Mandailing dan kalimat yang tepat adalah Mandailing Pantai Barat. Oleh karena jalur perhubungan dulunya adalah dari lautan, maka semua rempah-rempah yang ada di Mandailing dibawa melalui Pelabuhan Natal seperti karet, kopi Mandailing,kemenyan,kapur dan lain sebagainya.
Ketika menjadi bagian dari Tapanuli Selatan ( Tapsel ), orang menjadikan sebutan Tapsel dengan “ Tak pernah selesai “, Pada tahun 1999, Ranah Nata menjadi bagian dari Mandailing Nata (Madina), inipun dibuat ciloteh menjadi “ Main di mana-mana “. Memang dunia ini pernuh perlombaan dan permainan, sehingga timbul suatu pertanyaan “ Dimana Madinan nan Madani ? “. Beberapa pera saan mencuat di bibir masyarakat di Ranah Nata khususnya, antara lain sebagai berikut :
1. Sektor Perhubungan :
Kita sama mengetahui begitu besarnya potensi alam Ranah Nata khususnya seperti hasil laut (ikan),hasil hutan (kayu kayan),pertanian ( kelapa, sarang walet, sawit, karet dan padi ). Apakah hasil ini tidak sanggup me- Madani- kan jalur perhubungan darat ke Ranah Nata ?
2. Sektor Pertanian :
Kita sama mengetahui begitu luasnya tanah ulayat Ranah nata yang sekarang sudah dikuasai dan diusahai oleh para pengusaha dengan perkebunan kelapa sawit, apakah tidak bisa para peta ni pengusaha itu me – Madani- kan Masyarakat Ranah Nata dengan mengikutkan mereka menjadi peserta petani inti rakyat ( PIR ) atau plasma ? Bila kita kumpulkan buih-buih mulut masya rakat yang menyampaikan permohonan kepada pengusaha yang mengobrak abrik tanah warisan nenek moyang mereka, mungkin sama banyaknya dengan air Galoro atau Galodo yang menimpa Ranah Nata yang terjadi di Tabuyung, Bintuas, Sikarakara dan Pasa Jirak ( Galoro/Tsunami ), Singkuang ,Batahan dan Batangnata ( Galodo ) yang menimpa baru-baru ini. Semua bicara tak di dengarkan lagi dan terpaksa dengan bahasa isyarat (demo). Sayang masing-masing salah langkah dalam Nata Aksi Demo ( NAD ) sehingga melahirkan swiping Serentak Tigapuluh April ( SERGAP ) yang membuat masyarakat trauma.
Penulis juga mendapat jatah Sergap dipagi Jum’at tgl.30 April 2010, ketika penulis siap menaikkan bendera di tempat bekerja, lalu melihat sebagian dari arah pasar dan menyetop sebuah kende raan beroda empat dari arah Panggautan yang tentu saja penulis tercengang melihatnya, lalu mendapat perintah “ Masuk Pak ! “. Kemudian aku menoleh kembali dan setelah dekat,aku melihat “ Paha Ayam “ dipinggangnya dan mereka berkata “ Nanti ku Tembak “. Aku segera masuk dan berlari ke Kantin dan ketika aku menutup pintu, tiba-tiba melompat beberapa orang melalui pagar yang terkunci, hatiku pun semakin berdebar-debar.
3. Sektor Pendidikan :
Kita semua tahu bahwa di Ranah Nata berbagai lembaga ilmu pendidikan baik tingkat TK/SD/MI/SMP/MTs/SMA/MAN sudah menjamur bagai dimusim hujan dan begitu juga tenaga pendidiknya dengan berbagai disiplin ilmu dan sudah banyak yang di sertifikasi status keguruannya. Tetapi kenapa tugas guru yang disertifikasi hampir sama dengan guru Pegawai Honor Komite (PHK),sedangkan para PHK bergaji dibawah Rp.500.000/ bulan dan diterima 2 atau 3 kali dalam setahun ? Sudah gajinya sampai setengah tahun dikumpul, namun tidak mengalami kenaikan yang berarti mengajari guru untuk berhutang kemana dan mungkin itulah yang dikatakan “ Main Di Mana-mana “.
4. Sektor Kesehatan :
Kita sangat berbangga hati atas berdirinya Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Natal, walaupun habisnya peninggalan sejarah Multatuli itu tinggal coraknya ,tapi dari segi manfaat ,setiap pasien mayoritas disuruh berobat ke ibukota Kabupaten (Panyabungan). Apakah tidak bisa di Madani-kan para tenaga kesehatan di RSUD tersebut atau peralatan yang tidak ada atau kurang lengkap ???.
5. Sektor Agama
Kita juga bangga dengan banyak Lembaga Pendidikan Agama di Ranah Nata, baik Negeri
maupun Swasta. Adakah Pemerintah menempat Guru Negeri di Madrasah ?? Dari sisi ilmu ketajwidan sangan minim sekali, apalagi sekarang kaset tape/CD sudah pandai mengaji dan mungkinkah yang akan datang Adzan lewat CD ??
6. Sektor Seni dan Budaya :
a. Kita turut berbangga hati dengan telah banyaknya beredar kaset CD lagu-lagu daerah Mandailing Natal (Madina). Lebih kurang dari 50 keping koleksi lagu-lagu Daerah Madina, tidak ada kita dapati lagu daerah Natal ( Ranah Nata ). Dinama letaknya Natal jika dikatakan Tapsel Madina ?? Hanya ada satu lagu daerah Natal dalam Album Al- Musyarrafah Production dengan judul “ Pantai Natal “ vocal Hj.Magdalena Hasyim Padangsidimpuan. Lain halnya dengan Sinandong Dendang Melayu Pesisir ( Sinden Mesir ) Ranah Nata produksi Sry Record. Dalam album Aceh Sitoli (vol.1) terdapat lagu Mandailing ( Holong Naso Sampe vocal Irwansyah Putra ) dan Sa Suku Sa Marga ( Nata – Mandailing , vocal Fahdlan Syukri dan Rhina Syafitra ), sedangkan pada vol.II judul Shaff Ria terdapat lagu Lina ( Mandailing, vocal Irwansyah Putra ), Manjujuo ( Nata – Mandailing vocal Sry Wardahningsih & Imwar R.Amanda ), Duo Ranah ( Nata – Minang vocal Fadhlan Syukri – Jeje Kaslina ) dan lagu Kawin Sipatu ( Nata – Jawa vocal Sry Wardahningsih & Asdiana ).
b. Sejak zaman dahulu bahwa setiap melaksanakan peresmian pesta perkawinan selalu diadakan acara Baralek, walaupun disana sini banyak terdapat perobahan, tetapi ada pula yang perlu dikembalikan, karena membawa dampak yang kurang baik. Salah satu adalah acara “ Manjalang “ yang merupakan wadah silaturrahmi keluarga, dimana saling memperkenalkan kerabat dekat Marapuley dan Anakdaro secara timbal balik. Tetapi hal ini telah hilang dan berganti dengan kunjungan pada suasana Hari Ghayo Idul fithri dengan cara yang berbeda. Dulu, dalam acara ini para saudara,anak kemenakan datang bersilaturrahmi dengan membawa seranta ngan juadah tradisional, tetapi sekarang tanpa membawa apa-apa kecuali tas kecil yang yang di sandang anak-anaknya untuk meminta “ Salam Tempel “.
c. Acara Kesenian Daerah Badendang sekarang hampir punah dari ulayat pantun dendang pesisir pantun berantai ( Desir Pantai ) ini dan telah digantikan oleh keyboard yang membawakan udara ke-Barat-baratan sehingga angin ke-Timuran kita hampir punah dengan udara Si Rancak Adat itu. Dalam rangka untuk menghidup suburkan dan melestarikan kembali Seni Budaya Daerah Ranah Nata, kiranya dapat diadakan Pekan Lomba Seni Tradisional Ranah Nata ( PESTARANA ) pada hari raya Idul Fitri setiap tahunnya.
d. Salah satu acara seni budaya yang melambangkan persatuan dan mencitrakan etnis dan profil Masyarakat Adat Ranah Nata yang disebut “ Main Sinduang & Simuntu Dayak “. Bisakah permainan itu kita Madani-kan di daerah asalnya Ranah Nata yang kita cintai ini ???
7. Sektor Penerangan :
Beberapa puluh tahun Ranah Nata telah dijamah oleh aliran listrik dengan masuknya Listrik Masuk Desa, sehingga pelosok-pelosok di Ranah Nata telah terang benderang,kecuali Gugung di Kampungsawah Mudik. Menjelang masuknya tahun 2010, PLN berobah disebab kan Padam Lebih lama baru Nyala dan Poltase Lemah & Nyedrop. Hal ini difaktakan dimana dulunya jam 22.00 wib sudah bisa di aktif kan komputer, tetapi sekarang baru bisa di operasikan jam 24.00 dan kadang-kadang sampai siang baru bisa. Apakah tidak bisa di – Madani-kan jalur pantai barat menjadi jalur arus listrik, sebab jalur mandailing batang natal sangat rawan musibah seperti longsor dan kayu tumbang,walaupun kadang tidak masuk akal, karena mungkinkan longsor setiap hari ?
8. Sektor Hukum & Wilayah :
Sesuai dengan Keputusan Mahkamah Agung menyatakan bahwa Pengadilan tidak berhak merobah atau membatalkan keputusan hasil rapat adat tentang tanah spekulen ( tanah adat ). Tetapi sejak tahun 2007 sampai sekarang masih tetap terpancang sebuah papan nama Selamat Datang di Desa Setia Karya, padahal masih 1 km lagi baru sampai keperbatasan Sisi Pancang Kedaulatan ( SIPADAN ) di Anak Ayie Muridun Pancang Peje yang sekarang populer dengan nama Anak Ayie Kucieng jalang. Apakah hal ini tidak bisa di selesaikan,padahal sudah sampai kepada yang berwenang hingga Kapolda Sumut.
Bila kita bicara tentang Sipadan yang memisahkan Daerah Tugas Kedaulatan ( DATUK ) antara Datuk dengan batas alami yang dalam istilah disebut Karak-karak karena tidak beraturan disebabkan oleh batas alami yaitu lereng bukik, aliran sungai dan lain sebagainya.
Sipadan yang telah ditetapkan tidak bisa dipindahkan atau alih sipadan,karena telah dikunci dengan petitih atau pepatah “ Ka ateh indak ba pucuok, kabawah indak ba urek “ atau “ ka bukik bagulieng ayie, ka lurah ba gulieng tanah “ dan “ janji ma ungkei buek “. Kemudian datang ukuran pertanahan dengan jalan lurus dari sudut ke sudut yang dalam adat dikatakan “ Lempieng “, maka terjadi lah petrbedaan karena “ Karak-karak di timpok Lempieng “ yang ,mengakibatkan tambah kurangnya ulayat itu,sebab ada yang termasuk dan ada pula yang tersisa dan terjadilah perbedaan yang mengakibatkan NAD dan SERGAP.
9. Sektor Pariwisata :
Alam Ranah Nata yang begitu indah dan mempesona, tidak di-Madanikan sehingga banyak sisa-sisa sejarah yang terbengkalai beitu saja bahkan ada yang sudah dibongkar dan dimusnahkan oleh mereka. Alam Ranah Nata hanya dimanfaatkan oleh para producer lagu-lagu daerah khususnya Mandailing yaitu produksi kaset VCD untuk klip lagu-lagu berlokasi shooting di pantai Natal atau Pantai Barat di Ranah Nata.
Sejak diproduksinya kaset VCD Al-Musyarrofah Production lagu “ Pantai Natal “ oleh Hj.Magdalena Hasyim, menyusul Odang Productian dalam album “ Sampuraga “ berlokasi shooting di Pantai Natal dan Taluk Sikarakara. Selanjutnya, muncul Kurnia Musik Psp dal lagu Pantai Laut Natal dan kemudia B@i Pro Panyabungan dengan lagu-lagu Pulau Harapan, Chintya dan Ayah yang men caplok klip milik Sry Record Ranah Nata, dimana klip itu diperuntukkan untuk lagu “ Gerep “ ( vocal Esa Cipta Adelina & Sry Wardaningsih ) , “ Musibah Batu Banieng “ ( vocal Irwansyah Putra ) , “ Upiek Ketek “ ( vocal Fadhlan Syukri & Irwansyah Putra ) , “ Basampan Cinto “ ( vocal Jeje Kaslina & Irwansyah Putra ) dan “ Shaff Ria “ ( vocal Imwar R.Amanda ) ciptaan Shaff Ra Alisyahbana. Aada juga album “ Duo Ranah “ produksi B@i Pro yaitu lagu-lagu “ Bungkuy Tarawang voc. Budi Rahman Nst, “ Trauli “ dan “ Shaff Ria “ voc. Imwar R. Amanda , “ Nasib Ranah “ voc. Imwar R.Amanda & Budi Rahman Nst.,“ Ratok Nasib “ voc. Ummi Habibah Mondoilik, “ Duo Ranah “ voc.Adi Cs & Ummui Habibah dan lagu “ Atjeh Sitoli “ vocal Adi Cs.
Kalau kita tilik dari persediaan artis biduan, sudah memantapkan Ranah Nata hadir di blantika musik Indonesia seperti Irwan syah Putra,Rhina Syahfitra,Liya Vidya,Fadhlan Syukri,Imwar R.Amanda, Sry Wardahngingsih, Asdiana, Jeje Kaslina, Sulismiatin, M.Rafiq, Esa Cipta Adelina , Sry Rahayu dan lainnya dan ditambah 2 orang yang sumando yaitu Rizky Nasution dan Budi rahman Nasution, kemudia Elfi Adilla, putri Ranah Nata yang berdiam di kota Kipang Panyabungan.
Akhirnya , hal ini akan terlaksana setelah pergantian Kepala Daerah / Bupati Mandailing Natal dan selambat-lambatnya setelah berdi rinya Kabupaten Pantai Barat Mandailing ( usul penulis dalam bait lagu “ Nasib Ranah “ adalah KABUPATEN RANAH NATA ) , sehingga munculnya Rakyat Benah Nasib & Tahta ( RANAH NATA }.
Sejak zaman Nabi Sulaiman As, Ranah Nata sudah dihuni oleh Bangsa Bugis dan Batak. Mungkin yang dimaksud Batak disini adalah Mandailing dan mungkin juga orang-orang Batak yang ada di Sibolga atau Tapanuli Tengah di Pesisir Barat Sumatera,karena dulunya jalur perhubungan melalui lautan.
Pada abad ketujuh Hijriah, Ibnu Bathutah datang ke Ranah Nata ( 1325 – 1345 ) dan menamai tempat ini Ranah Nata, sehubungan dengan sedang terjadinya tragedi hukuman yang dilaksanakan diatas sebuah bukit kecil yaitu Bukik Bandera. Ranah Nata berasal dari bahasa Arab yang artinya “ Jeritan di atas bukit kecil ”. Kemudian masuk Portugis ( 1492 – 1498 ) dan disebabkan panorama yang dimiliki Ranah Nata sama dengan indahnya Natal di Durban dan Africa Selatan, lalu mereka menamakan tempat ini Natal. Demikian juga datangnya Mangaraja Uhum dan pindah ke Ranah Nata dan karena melihat pemandangan yang indah di Tor Pangolat , maka mereka namakan Natar ( yang terindah ). Apapun nama yang diberikan oleh mereka, yang jelas aslinya adalah Ranah Nata, sesuai dengan lidah Masyarakat Adat Ranah Nata yang menyebutnya sampai sekarang ini. Natal , Natar atau Natolu , itu adalah nama samaran atau alias saja.
Pantas sekali penulis menyebutnya Serambi Makkah Mesir Madina, sebab Ranah Nata adalah Seram bi masuknya bangsa Arya ( Holing ) maupun Mande Hilang yaitu asal kata dari Mandailing, sedang kan Makkah adalah Malako dan itulah ibukota Kerajaan Ranah Nata. Mesir adalah singkatan dari Melayu Pesisir (Mesir) yaitu etnis Bangsa Ranah Nata yang berada di Kabupaten Mandailing Natal (Madina).
Ranah Nata menempuh masa emasnya pada tahun 1837 dan 1842 ketika menjadi bagian dari Air Bangis Sumatera Barat karena seadat,seagama,sebangsa dan sebahasa yaitu Melayu Pesisir ( Mesir ) . Kemudian Ranah Nata yang dari “ Lembah Sorik Marapi sampai ke tepi ombah yang berdebur “ atau “ Antaro Batu nan Ampek “ atau “ Batang Natolu”, kemudian dicabik dua menjadi Nata dan Batang Nata. Nata dibagi menjadi tiga bagian yaitu Kedewanan Nata,Batahan dan Singkuang yang kini men jadi Kecamatan Nata, Batahan dan Mubadis,sedangkan Batangnata dibagi dua yaitu Batangnata dan Linggabayu. Kemudian Batahan dicabik dua, Batahan dan Sinunukan dan Linggabayu dicabik dua pula yaitu Linggabayu dan Ranto Baek,sehingga Ranah Nata sudah dicabik tujuh bagian.
Kini , pecahan atau cabikan yang tujuh bagian itu akan dijahit dengan benang pemekaran Madi na dalam pamedangan Pantai Barat di Mandailing sehingga diberi nama Kabupaten Pantai Barat Mandailing ( Pabarling ). Ditinjau dari geografi, memang Ranah Nata terletak di pantai barat Sumatera dan Ranah Nata adalah bagian dari Mandailing. Sebenarnya kalimat ini adalah terbalik, sebab lebih dahulu adanya Ranah Nata yang merupakan Ranah tertua di Mandailing dan kalimat yang tepat adalah Mandailing Pantai Barat. Oleh karena jalur perhubungan dulunya adalah dari lautan, maka semua rempah-rempah yang ada di Mandailing dibawa melalui Pelabuhan Natal seperti karet, kopi Mandailing,kemenyan,kapur dan lain sebagainya.
Ketika menjadi bagian dari Tapanuli Selatan ( Tapsel ), orang menjadikan sebutan Tapsel dengan “ Tak pernah selesai “, Pada tahun 1999, Ranah Nata menjadi bagian dari Mandailing Nata (Madina), inipun dibuat ciloteh menjadi “ Main di mana-mana “. Memang dunia ini pernuh perlombaan dan permainan, sehingga timbul suatu pertanyaan “ Dimana Madinan nan Madani ? “. Beberapa pera saan mencuat di bibir masyarakat di Ranah Nata khususnya, antara lain sebagai berikut :
1. Sektor Perhubungan :
Kita sama mengetahui begitu besarnya potensi alam Ranah Nata khususnya seperti hasil laut (ikan),hasil hutan (kayu kayan),pertanian ( kelapa, sarang walet, sawit, karet dan padi ). Apakah hasil ini tidak sanggup me- Madani- kan jalur perhubungan darat ke Ranah Nata ?
2. Sektor Pertanian :
Kita sama mengetahui begitu luasnya tanah ulayat Ranah nata yang sekarang sudah dikuasai dan diusahai oleh para pengusaha dengan perkebunan kelapa sawit, apakah tidak bisa para peta ni pengusaha itu me – Madani- kan Masyarakat Ranah Nata dengan mengikutkan mereka menjadi peserta petani inti rakyat ( PIR ) atau plasma ? Bila kita kumpulkan buih-buih mulut masya rakat yang menyampaikan permohonan kepada pengusaha yang mengobrak abrik tanah warisan nenek moyang mereka, mungkin sama banyaknya dengan air Galoro atau Galodo yang menimpa Ranah Nata yang terjadi di Tabuyung, Bintuas, Sikarakara dan Pasa Jirak ( Galoro/Tsunami ), Singkuang ,Batahan dan Batangnata ( Galodo ) yang menimpa baru-baru ini. Semua bicara tak di dengarkan lagi dan terpaksa dengan bahasa isyarat (demo). Sayang masing-masing salah langkah dalam Nata Aksi Demo ( NAD ) sehingga melahirkan swiping Serentak Tigapuluh April ( SERGAP ) yang membuat masyarakat trauma.
Penulis juga mendapat jatah Sergap dipagi Jum’at tgl.30 April 2010, ketika penulis siap menaikkan bendera di tempat bekerja, lalu melihat sebagian dari arah pasar dan menyetop sebuah kende raan beroda empat dari arah Panggautan yang tentu saja penulis tercengang melihatnya, lalu mendapat perintah “ Masuk Pak ! “. Kemudian aku menoleh kembali dan setelah dekat,aku melihat “ Paha Ayam “ dipinggangnya dan mereka berkata “ Nanti ku Tembak “. Aku segera masuk dan berlari ke Kantin dan ketika aku menutup pintu, tiba-tiba melompat beberapa orang melalui pagar yang terkunci, hatiku pun semakin berdebar-debar.
3. Sektor Pendidikan :
Kita semua tahu bahwa di Ranah Nata berbagai lembaga ilmu pendidikan baik tingkat TK/SD/MI/SMP/MTs/SMA/MAN sudah menjamur bagai dimusim hujan dan begitu juga tenaga pendidiknya dengan berbagai disiplin ilmu dan sudah banyak yang di sertifikasi status keguruannya. Tetapi kenapa tugas guru yang disertifikasi hampir sama dengan guru Pegawai Honor Komite (PHK),sedangkan para PHK bergaji dibawah Rp.500.000/ bulan dan diterima 2 atau 3 kali dalam setahun ? Sudah gajinya sampai setengah tahun dikumpul, namun tidak mengalami kenaikan yang berarti mengajari guru untuk berhutang kemana dan mungkin itulah yang dikatakan “ Main Di Mana-mana “.
4. Sektor Kesehatan :
Kita sangat berbangga hati atas berdirinya Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Natal, walaupun habisnya peninggalan sejarah Multatuli itu tinggal coraknya ,tapi dari segi manfaat ,setiap pasien mayoritas disuruh berobat ke ibukota Kabupaten (Panyabungan). Apakah tidak bisa di Madani-kan para tenaga kesehatan di RSUD tersebut atau peralatan yang tidak ada atau kurang lengkap ???.
5. Sektor Agama
Kita juga bangga dengan banyak Lembaga Pendidikan Agama di Ranah Nata, baik Negeri
maupun Swasta. Adakah Pemerintah menempat Guru Negeri di Madrasah ?? Dari sisi ilmu ketajwidan sangan minim sekali, apalagi sekarang kaset tape/CD sudah pandai mengaji dan mungkinkah yang akan datang Adzan lewat CD ??
6. Sektor Seni dan Budaya :
a. Kita turut berbangga hati dengan telah banyaknya beredar kaset CD lagu-lagu daerah Mandailing Natal (Madina). Lebih kurang dari 50 keping koleksi lagu-lagu Daerah Madina, tidak ada kita dapati lagu daerah Natal ( Ranah Nata ). Dinama letaknya Natal jika dikatakan Tapsel Madina ?? Hanya ada satu lagu daerah Natal dalam Album Al- Musyarrafah Production dengan judul “ Pantai Natal “ vocal Hj.Magdalena Hasyim Padangsidimpuan. Lain halnya dengan Sinandong Dendang Melayu Pesisir ( Sinden Mesir ) Ranah Nata produksi Sry Record. Dalam album Aceh Sitoli (vol.1) terdapat lagu Mandailing ( Holong Naso Sampe vocal Irwansyah Putra ) dan Sa Suku Sa Marga ( Nata – Mandailing , vocal Fahdlan Syukri dan Rhina Syafitra ), sedangkan pada vol.II judul Shaff Ria terdapat lagu Lina ( Mandailing, vocal Irwansyah Putra ), Manjujuo ( Nata – Mandailing vocal Sry Wardahningsih & Imwar R.Amanda ), Duo Ranah ( Nata – Minang vocal Fadhlan Syukri – Jeje Kaslina ) dan lagu Kawin Sipatu ( Nata – Jawa vocal Sry Wardahningsih & Asdiana ).
b. Sejak zaman dahulu bahwa setiap melaksanakan peresmian pesta perkawinan selalu diadakan acara Baralek, walaupun disana sini banyak terdapat perobahan, tetapi ada pula yang perlu dikembalikan, karena membawa dampak yang kurang baik. Salah satu adalah acara “ Manjalang “ yang merupakan wadah silaturrahmi keluarga, dimana saling memperkenalkan kerabat dekat Marapuley dan Anakdaro secara timbal balik. Tetapi hal ini telah hilang dan berganti dengan kunjungan pada suasana Hari Ghayo Idul fithri dengan cara yang berbeda. Dulu, dalam acara ini para saudara,anak kemenakan datang bersilaturrahmi dengan membawa seranta ngan juadah tradisional, tetapi sekarang tanpa membawa apa-apa kecuali tas kecil yang yang di sandang anak-anaknya untuk meminta “ Salam Tempel “.
c. Acara Kesenian Daerah Badendang sekarang hampir punah dari ulayat pantun dendang pesisir pantun berantai ( Desir Pantai ) ini dan telah digantikan oleh keyboard yang membawakan udara ke-Barat-baratan sehingga angin ke-Timuran kita hampir punah dengan udara Si Rancak Adat itu. Dalam rangka untuk menghidup suburkan dan melestarikan kembali Seni Budaya Daerah Ranah Nata, kiranya dapat diadakan Pekan Lomba Seni Tradisional Ranah Nata ( PESTARANA ) pada hari raya Idul Fitri setiap tahunnya.
d. Salah satu acara seni budaya yang melambangkan persatuan dan mencitrakan etnis dan profil Masyarakat Adat Ranah Nata yang disebut “ Main Sinduang & Simuntu Dayak “. Bisakah permainan itu kita Madani-kan di daerah asalnya Ranah Nata yang kita cintai ini ???
7. Sektor Penerangan :
Beberapa puluh tahun Ranah Nata telah dijamah oleh aliran listrik dengan masuknya Listrik Masuk Desa, sehingga pelosok-pelosok di Ranah Nata telah terang benderang,kecuali Gugung di Kampungsawah Mudik. Menjelang masuknya tahun 2010, PLN berobah disebab kan Padam Lebih lama baru Nyala dan Poltase Lemah & Nyedrop. Hal ini difaktakan dimana dulunya jam 22.00 wib sudah bisa di aktif kan komputer, tetapi sekarang baru bisa di operasikan jam 24.00 dan kadang-kadang sampai siang baru bisa. Apakah tidak bisa di – Madani-kan jalur pantai barat menjadi jalur arus listrik, sebab jalur mandailing batang natal sangat rawan musibah seperti longsor dan kayu tumbang,walaupun kadang tidak masuk akal, karena mungkinkan longsor setiap hari ?
8. Sektor Hukum & Wilayah :
Sesuai dengan Keputusan Mahkamah Agung menyatakan bahwa Pengadilan tidak berhak merobah atau membatalkan keputusan hasil rapat adat tentang tanah spekulen ( tanah adat ). Tetapi sejak tahun 2007 sampai sekarang masih tetap terpancang sebuah papan nama Selamat Datang di Desa Setia Karya, padahal masih 1 km lagi baru sampai keperbatasan Sisi Pancang Kedaulatan ( SIPADAN ) di Anak Ayie Muridun Pancang Peje yang sekarang populer dengan nama Anak Ayie Kucieng jalang. Apakah hal ini tidak bisa di selesaikan,padahal sudah sampai kepada yang berwenang hingga Kapolda Sumut.
Bila kita bicara tentang Sipadan yang memisahkan Daerah Tugas Kedaulatan ( DATUK ) antara Datuk dengan batas alami yang dalam istilah disebut Karak-karak karena tidak beraturan disebabkan oleh batas alami yaitu lereng bukik, aliran sungai dan lain sebagainya.
Sipadan yang telah ditetapkan tidak bisa dipindahkan atau alih sipadan,karena telah dikunci dengan petitih atau pepatah “ Ka ateh indak ba pucuok, kabawah indak ba urek “ atau “ ka bukik bagulieng ayie, ka lurah ba gulieng tanah “ dan “ janji ma ungkei buek “. Kemudian datang ukuran pertanahan dengan jalan lurus dari sudut ke sudut yang dalam adat dikatakan “ Lempieng “, maka terjadi lah petrbedaan karena “ Karak-karak di timpok Lempieng “ yang ,mengakibatkan tambah kurangnya ulayat itu,sebab ada yang termasuk dan ada pula yang tersisa dan terjadilah perbedaan yang mengakibatkan NAD dan SERGAP.
9. Sektor Pariwisata :
Alam Ranah Nata yang begitu indah dan mempesona, tidak di-Madanikan sehingga banyak sisa-sisa sejarah yang terbengkalai beitu saja bahkan ada yang sudah dibongkar dan dimusnahkan oleh mereka. Alam Ranah Nata hanya dimanfaatkan oleh para producer lagu-lagu daerah khususnya Mandailing yaitu produksi kaset VCD untuk klip lagu-lagu berlokasi shooting di pantai Natal atau Pantai Barat di Ranah Nata.
Sejak diproduksinya kaset VCD Al-Musyarrofah Production lagu “ Pantai Natal “ oleh Hj.Magdalena Hasyim, menyusul Odang Productian dalam album “ Sampuraga “ berlokasi shooting di Pantai Natal dan Taluk Sikarakara. Selanjutnya, muncul Kurnia Musik Psp dal lagu Pantai Laut Natal dan kemudia B@i Pro Panyabungan dengan lagu-lagu Pulau Harapan, Chintya dan Ayah yang men caplok klip milik Sry Record Ranah Nata, dimana klip itu diperuntukkan untuk lagu “ Gerep “ ( vocal Esa Cipta Adelina & Sry Wardaningsih ) , “ Musibah Batu Banieng “ ( vocal Irwansyah Putra ) , “ Upiek Ketek “ ( vocal Fadhlan Syukri & Irwansyah Putra ) , “ Basampan Cinto “ ( vocal Jeje Kaslina & Irwansyah Putra ) dan “ Shaff Ria “ ( vocal Imwar R.Amanda ) ciptaan Shaff Ra Alisyahbana. Aada juga album “ Duo Ranah “ produksi B@i Pro yaitu lagu-lagu “ Bungkuy Tarawang voc. Budi Rahman Nst, “ Trauli “ dan “ Shaff Ria “ voc. Imwar R. Amanda , “ Nasib Ranah “ voc. Imwar R.Amanda & Budi Rahman Nst.,“ Ratok Nasib “ voc. Ummi Habibah Mondoilik, “ Duo Ranah “ voc.Adi Cs & Ummui Habibah dan lagu “ Atjeh Sitoli “ vocal Adi Cs.
Kalau kita tilik dari persediaan artis biduan, sudah memantapkan Ranah Nata hadir di blantika musik Indonesia seperti Irwan syah Putra,Rhina Syahfitra,Liya Vidya,Fadhlan Syukri,Imwar R.Amanda, Sry Wardahngingsih, Asdiana, Jeje Kaslina, Sulismiatin, M.Rafiq, Esa Cipta Adelina , Sry Rahayu dan lainnya dan ditambah 2 orang yang sumando yaitu Rizky Nasution dan Budi rahman Nasution, kemudia Elfi Adilla, putri Ranah Nata yang berdiam di kota Kipang Panyabungan.
Akhirnya , hal ini akan terlaksana setelah pergantian Kepala Daerah / Bupati Mandailing Natal dan selambat-lambatnya setelah berdi rinya Kabupaten Pantai Barat Mandailing ( usul penulis dalam bait lagu “ Nasib Ranah “ adalah KABUPATEN RANAH NATA ) , sehingga munculnya Rakyat Benah Nasib & Tahta ( RANAH NATA }.
KAWASAN TRADISIONAL
KAWASAN TRADISIONAL
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
Untuk melanjutkan tindak lanjut Rencana Tindak Penanganan Kawasan Tradisional di Kab.Madina yg telah diteliti oleh Tim pada awal Juni 2010 di Ranah Nata ( Natal ), Insya Allah menurut informasi yg dipercaya, pelaksanaannya akan dimulai pada bulan Maret 2011 yad.
Pelaksanaan ini berjalan selama lima tahun dan pengerjaan secara bertahap. Informasi yg diperoleh bahwa yang sudah matang dan akan dilaksanakan pengerjaanya adalag antara lain ;
1. Pemugaran Tugu Proklamasi Kemerdekaan RI di pinggir Lapangahn Mahoni dan pembuatan drainase di sekeliling lapangan Mahoni Natal.
2. Perbaikan jalan menuju Maqam Syekh H.Abdul Fattah Sinantiku di Tampat , Pincuran Dewa Kampung Keramata Kelurahan Pasar I Natal.
3. Pembuatan jalan menuju Sumur Batu Syekh A.Abdul Fattah Mardia di Banjar Aceh , Perlak Talas Kampung Sawah Natal.
Insya Allah point (1) akan dimulai pada bulan Maret 2011 ini.
Melalui tulisan ini, penulis mengusulkan beberapa Kawasan Tradisional yang lainnya untuk dapat di teliti antara lain :
1. Pembukaan jalan menuju Maqam Raja Kerajaan Malako Ranah Nata di Jirat Malako sepanjang lk.800
Meter dari jalan Mandailing Natal ke Jirat Malako serta pembuatan jembatan/rambin dari Ujung Tanah ke Jirat Malako, Mudiek Ayie Perlak Talas Kampung Sawah Kec.Natal.
2. Membuka jalan menuju Maqam Pejuang Kinondom di Bukit Teropong, Simpang Sirah (Simpang Sordang) Ranah Nata.
3. Pemugaran seluruh Fakta Sejarah Ranah Nata (Natal) seperti Benteng,Merian,Brandkas,Goa Jepang di Taluk, Goa Sidang di Bintuas, Maqam Raja Singkuang di Singkuang,Makaq China di Bukit Cokong dll.
Demikianlah , semoga ada manfaatnya. Akankah…. ?????
Catatan : Tempat tersebut sudah penulis jalanani pada akhir tahun 2007 bersama Tim
Perkasa LA Kampung Sawah Kec.Natal.
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
Untuk melanjutkan tindak lanjut Rencana Tindak Penanganan Kawasan Tradisional di Kab.Madina yg telah diteliti oleh Tim pada awal Juni 2010 di Ranah Nata ( Natal ), Insya Allah menurut informasi yg dipercaya, pelaksanaannya akan dimulai pada bulan Maret 2011 yad.
Pelaksanaan ini berjalan selama lima tahun dan pengerjaan secara bertahap. Informasi yg diperoleh bahwa yang sudah matang dan akan dilaksanakan pengerjaanya adalag antara lain ;
1. Pemugaran Tugu Proklamasi Kemerdekaan RI di pinggir Lapangahn Mahoni dan pembuatan drainase di sekeliling lapangan Mahoni Natal.
2. Perbaikan jalan menuju Maqam Syekh H.Abdul Fattah Sinantiku di Tampat , Pincuran Dewa Kampung Keramata Kelurahan Pasar I Natal.
3. Pembuatan jalan menuju Sumur Batu Syekh A.Abdul Fattah Mardia di Banjar Aceh , Perlak Talas Kampung Sawah Natal.
Insya Allah point (1) akan dimulai pada bulan Maret 2011 ini.
Melalui tulisan ini, penulis mengusulkan beberapa Kawasan Tradisional yang lainnya untuk dapat di teliti antara lain :
1. Pembukaan jalan menuju Maqam Raja Kerajaan Malako Ranah Nata di Jirat Malako sepanjang lk.800
Meter dari jalan Mandailing Natal ke Jirat Malako serta pembuatan jembatan/rambin dari Ujung Tanah ke Jirat Malako, Mudiek Ayie Perlak Talas Kampung Sawah Kec.Natal.
2. Membuka jalan menuju Maqam Pejuang Kinondom di Bukit Teropong, Simpang Sirah (Simpang Sordang) Ranah Nata.
3. Pemugaran seluruh Fakta Sejarah Ranah Nata (Natal) seperti Benteng,Merian,Brandkas,Goa Jepang di Taluk, Goa Sidang di Bintuas, Maqam Raja Singkuang di Singkuang,Makaq China di Bukit Cokong dll.
Demikianlah , semoga ada manfaatnya. Akankah…. ?????
Catatan : Tempat tersebut sudah penulis jalanani pada akhir tahun 2007 bersama Tim
Perkasa LA Kampung Sawah Kec.Natal.
JAMBUOH RAO
SEJARAH KELURAHAN
PASAR I NATAL
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
Menurut muatan buku Madinan yang Madani karangan Bapak Drs Bayral Hamidy Harahap bahwa sejak tahun 1851, penduduk Ranah Nata di tepi pantai dihuni oleh orang-orang Melayu dan dipedalaman dihuni oleh orang Batak. Besar kemungkinan yang dikatakan orang Melayu itu adalah orang-orang yang menghuni Jambuoh Rao dan Jambuoh Aceh, sedangkan orang-orang Batak itulah mungkin Ranah Nata bagian mudik yang berdekatan di lembah bukit Sorik Marapi di sebelah Barat.
Jambuoh Rao adalah merupakan ranah kedua setelah Jambuoh Aceh yang dihuni oleh orang- orang Rao dan orang Mandailing kawin campuran dengan orang Minangkabau, sedangkan Jambuoh Aceh khusus dihuni oleh orang-orang yang berasal dari Tanah Rencong, Aceh.
Ulayat Ranah Nata ( sekarang Natal ) dipimpin oleh Tuanku Besar atau Rajo yang berkedudukan di Padang Malako, Mudiek Ayie Palak Taleh Kampung Sawah yang didirikan oleh Datuk Imam Basya yang datang dari Ujung Ga ding, Sumatera Barat.
Kemudian Ranah Nata dimekarkan menjadi beberapa Daerah Tugas Keula yatan ( DATUK ) yang dipimpin oleh seorang Datuk yang diangkat oleh Masyarakat Adat dalam ulayat Datuknya maing- masing yang juga kadang-kadang merupakan Kepala Suku di Kerajaan Ranah Nata. Sebelum adanya pembagiam ulayat, Datuk diadakan sebagai Kepala Suku yang memimpin suku nya masing-masing yaitu :
2
1. Suku Aceh dipimpin oleh Datuk Ketek yang memimpin Masyarakat Adat
yang berasal dari Tanah rencong ( Atjeh ).
2. Suku Minang dipimpin oleh Datuk Sinaro Panjang yang memimpin Masyarakat Adat yang berasal dari Miangkabau.
3. Suku Rao dipimpin oleh Datuk Sutan Pangulu yang memimpin Mayarakat Adat yang berasal dari Rao dan Mandailing yang kawin campuran dengan Minangkabau.
4. Suku Bandar X dipimpn oleh Datuk Mudo yang memimpin Masyarakat Adat yang berasal dari Sepuluh Bandar.
5. Suku Barat dipimpin oleh Datuk Putih yang memimpin Masyarakat Adat yang berasal dari Pulau-pulau bagian Selatan Ranah Nata seperti Palembang, Bengkulu, Sulawesi dan Kalimantan.
Ketika Ranah Nata masuk kedalam Residen Tapanuli dan menjadi bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 1850 dan Kedewanan Nata dipimpin oleh Kuria Arif Fa Dillah pada tahun 1947/1948 yang pada sebelumnya dipimpin Kuria H.Sutan Bardansyah tahun 1940, Belanda memilah-milah Ranah Nata menjadi beberapa Datuk dalam arti kata Kepala Kampung. Sepanjang jangkauan penelitian bahwa Datuk- datuk yang berku asa di ulayatnya masing- masing antara lain yaitu ;
1. Datuk Aceh di Jambuoh Aceh (sekarang Pasar V dan VI Natal).
2. Datuk Rao di Jambuoh Rao. (sekarang Kelurahan Pasar I, II , Desa Pasar III Natal dan Setia Karya).
3. Datuk Pangulu Kawa di Palak Taleh (sekarang Desa Kampung Sawah).
4. Datuk Panjang Gala di Balimbieng (sekarang Desa Balimbing dan Patiluban Mudik)
3
5. Datuk Bandaro Sati di Padanglawe (sekarang Desa Patiluban Hilir).
6. Datuk Mudo di Jambu ( sekarang Desa Bonda Kase).
7. Datuk Rangkayo di Patiluban.
8. Datuk Ambosa Buang Sakti di Bintungan Bejangkar (Kecamatan Batahan).
9. Datuk Sotu Bukik di Kampung Godang (Kecamatan Batahan).
10. Datuk Parhimpunan St.Mangatimbuong Dilauiktan di Kampung Kapeh (Kecamatan Batahan).
11. Datuk Malompa di Lubuok Suntieng(Kecamatan Batahan), dan
12. Datuk Manuncang di Singiang (Kecamatan Batahan).
Kemudian orang Belanda menjadikan Ranah Nata beberapa Week yaitu ;
1. Wek I yaitu Kelurahan Pasar I Natal dengan Kepala Week Bapak Dt. Syaifuddin Batubara.
2. Wek II yaitu Kelurahan Pasar II Natal dengan Kepala Week Bapak Dt.Amir Husin.
3. Wek III yaitu Desa Pasar III Natal dengan Kepala Week Bapak Aplus.
4. Wek IV yaitu Setia Karya Natal dengan Kelapa Week Bapak Azhar, dan
5. Wek V yaitu Desa Pasar V Natal dengan Kepala Week Bapak Basman Jambak.
Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dalam Kemerdekaan tgl.17 Agustus 1945, pada waktu itu Ranah Nata menjadi Kedewanan yang dipimpin oleh Kuria-kuria yaitu Bapak Tuanku Mudo Hidayatsyah, Bapak H,Sutan Bardansyah dan Bapak H.Sutan Chaidir.
4
Selanjutnya Ranah Nata menjadi Kecamatan yang dipimpim oleh Bapak H.Syariful Alamsyah tahun 1946, Bapak H.Sutan Bardansyah tahun 1948 – 1953, maka Week atau Kepala Kampung diganti dengan Kepala Desa .
Pada tahun 1964, setelah wafatnya Bapak Datuk Ugok Syaifuddin Batubara yang menjabat Kepala Kampung Pasar I Natal, digantikan oleh Bapak Datuk Zainal Husin yang merangkap sebagai Kepala Suku Rao. Kemudian pada tahun 1970, jabatan Kepala Desa dipegang oleh Bapak Datuk Khairul Amin hingga tahun 1975. Tahun 1975 merupakan masa peralihan Desa Pasar I Natal menjadi Kelurahan Pasar I Natal dengan pengangkatan Lurah Bapak Syahril Hasan yang merupakan Lurah Pertama di Kelurahan Pasar I Natal. Sekitar tahun 1980, Bapak Misdar diangkat menjadi Lurah kedua menggantikan oknum Lurah Syahril Hasan yang wafat hingga pension nya pada tahun 2010 yang baru lalu. Akhirnya, pada awal tahun 2011 ini, Lurah Pasar I Natal dijabat oleh Bapak Amrin hingga sekarang.
Kelurahan Pasar I Natal berpenduduk ……. jiwa dengan luas wilayah….. KM persegi yang berwatas sebelah ;
- Barat berwatas dengan jalan Sutan Syahrir, jalan Multatuli dan jalan Pelabuhan, Kelurahan Pasar II Natal.
- Timur berwatas dengan Drs.HA Parwis Nasution SH sepanjang parit Anak Ayie Cama, Desa Pasar III Natal.
- Utara berwatas dengan Sungai Karan Desa Panggautan.
- Selatan berwatas dengan Sungai Batang Natal, Desa Pasar V Natal.
5
Adapun banguan-bangunan Pemerintah atau lainnya yang terdapat di Kelurahan Pasar I Natal antara lain sbb.;
1. Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Natal di Tanah Lapang.
2. Rumah Dinas Kapolsek Natal di Tanah Lapang.
3. Rumah Kontler Multatuli di Tanah Lapang.
4. Sekolah Polisi Pertama Sumatera Utara ( kini SDN No.142704 Natal).
5. Sumur Multatuli di Tanah Lapang.
6. Brand Kas Jepang di Tanah Lapang.
7. Rumah Gadang Pokok Aru di Pokok Aru.
8. Bank BRI Unit Natal di Pokok Aru.
9. Masjid Hajjah Fathimah di Simpang Ampek.
10. Bank Sumut Unit Natal di Simpang Ampek.
11. SMP Negeri 1 Natal di Simungkuk.
12. Sekolah Dasar Negeri No.142705 Natal di Simungkuk
13. Masjid Al- Amin di Simungkuk, Kampung Keramat.
14. Makam Syekh H.Abdul Fattah Sinantiku di Tampat, Pincuran Dewa.
15. Stasion Relay TVRI di Bukik Simungkuk.
16. Stasiun Pemantar Telkomsel di Bukik Simungkuk.
17. Stasiun Pemancar Indosat di Bukik Simungkuk.
18. Kantor Pengadilan Negeri Padangsidimpuan di Natal, Bukik Simungkuk.
Demikianlah Sejarah Kelurahan Pasar I Natal Kecamatan Natal Kabupaten Mandailing Natal diperbuat untuk dapat dimaklumi adanya.
Catatan :
Lampiran : Peta Kelurahan Pasar I Natal dalam Ulayat Jambuoh Rao.
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
PASAR I NATAL
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
Menurut muatan buku Madinan yang Madani karangan Bapak Drs Bayral Hamidy Harahap bahwa sejak tahun 1851, penduduk Ranah Nata di tepi pantai dihuni oleh orang-orang Melayu dan dipedalaman dihuni oleh orang Batak. Besar kemungkinan yang dikatakan orang Melayu itu adalah orang-orang yang menghuni Jambuoh Rao dan Jambuoh Aceh, sedangkan orang-orang Batak itulah mungkin Ranah Nata bagian mudik yang berdekatan di lembah bukit Sorik Marapi di sebelah Barat.
Jambuoh Rao adalah merupakan ranah kedua setelah Jambuoh Aceh yang dihuni oleh orang- orang Rao dan orang Mandailing kawin campuran dengan orang Minangkabau, sedangkan Jambuoh Aceh khusus dihuni oleh orang-orang yang berasal dari Tanah Rencong, Aceh.
Ulayat Ranah Nata ( sekarang Natal ) dipimpin oleh Tuanku Besar atau Rajo yang berkedudukan di Padang Malako, Mudiek Ayie Palak Taleh Kampung Sawah yang didirikan oleh Datuk Imam Basya yang datang dari Ujung Ga ding, Sumatera Barat.
Kemudian Ranah Nata dimekarkan menjadi beberapa Daerah Tugas Keula yatan ( DATUK ) yang dipimpin oleh seorang Datuk yang diangkat oleh Masyarakat Adat dalam ulayat Datuknya maing- masing yang juga kadang-kadang merupakan Kepala Suku di Kerajaan Ranah Nata. Sebelum adanya pembagiam ulayat, Datuk diadakan sebagai Kepala Suku yang memimpin suku nya masing-masing yaitu :
2
1. Suku Aceh dipimpin oleh Datuk Ketek yang memimpin Masyarakat Adat
yang berasal dari Tanah rencong ( Atjeh ).
2. Suku Minang dipimpin oleh Datuk Sinaro Panjang yang memimpin Masyarakat Adat yang berasal dari Miangkabau.
3. Suku Rao dipimpin oleh Datuk Sutan Pangulu yang memimpin Mayarakat Adat yang berasal dari Rao dan Mandailing yang kawin campuran dengan Minangkabau.
4. Suku Bandar X dipimpn oleh Datuk Mudo yang memimpin Masyarakat Adat yang berasal dari Sepuluh Bandar.
5. Suku Barat dipimpin oleh Datuk Putih yang memimpin Masyarakat Adat yang berasal dari Pulau-pulau bagian Selatan Ranah Nata seperti Palembang, Bengkulu, Sulawesi dan Kalimantan.
Ketika Ranah Nata masuk kedalam Residen Tapanuli dan menjadi bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan pada tahun 1850 dan Kedewanan Nata dipimpin oleh Kuria Arif Fa Dillah pada tahun 1947/1948 yang pada sebelumnya dipimpin Kuria H.Sutan Bardansyah tahun 1940, Belanda memilah-milah Ranah Nata menjadi beberapa Datuk dalam arti kata Kepala Kampung. Sepanjang jangkauan penelitian bahwa Datuk- datuk yang berku asa di ulayatnya masing- masing antara lain yaitu ;
1. Datuk Aceh di Jambuoh Aceh (sekarang Pasar V dan VI Natal).
2. Datuk Rao di Jambuoh Rao. (sekarang Kelurahan Pasar I, II , Desa Pasar III Natal dan Setia Karya).
3. Datuk Pangulu Kawa di Palak Taleh (sekarang Desa Kampung Sawah).
4. Datuk Panjang Gala di Balimbieng (sekarang Desa Balimbing dan Patiluban Mudik)
3
5. Datuk Bandaro Sati di Padanglawe (sekarang Desa Patiluban Hilir).
6. Datuk Mudo di Jambu ( sekarang Desa Bonda Kase).
7. Datuk Rangkayo di Patiluban.
8. Datuk Ambosa Buang Sakti di Bintungan Bejangkar (Kecamatan Batahan).
9. Datuk Sotu Bukik di Kampung Godang (Kecamatan Batahan).
10. Datuk Parhimpunan St.Mangatimbuong Dilauiktan di Kampung Kapeh (Kecamatan Batahan).
11. Datuk Malompa di Lubuok Suntieng(Kecamatan Batahan), dan
12. Datuk Manuncang di Singiang (Kecamatan Batahan).
Kemudian orang Belanda menjadikan Ranah Nata beberapa Week yaitu ;
1. Wek I yaitu Kelurahan Pasar I Natal dengan Kepala Week Bapak Dt. Syaifuddin Batubara.
2. Wek II yaitu Kelurahan Pasar II Natal dengan Kepala Week Bapak Dt.Amir Husin.
3. Wek III yaitu Desa Pasar III Natal dengan Kepala Week Bapak Aplus.
4. Wek IV yaitu Setia Karya Natal dengan Kelapa Week Bapak Azhar, dan
5. Wek V yaitu Desa Pasar V Natal dengan Kepala Week Bapak Basman Jambak.
Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dalam Kemerdekaan tgl.17 Agustus 1945, pada waktu itu Ranah Nata menjadi Kedewanan yang dipimpin oleh Kuria-kuria yaitu Bapak Tuanku Mudo Hidayatsyah, Bapak H,Sutan Bardansyah dan Bapak H.Sutan Chaidir.
4
Selanjutnya Ranah Nata menjadi Kecamatan yang dipimpim oleh Bapak H.Syariful Alamsyah tahun 1946, Bapak H.Sutan Bardansyah tahun 1948 – 1953, maka Week atau Kepala Kampung diganti dengan Kepala Desa .
Pada tahun 1964, setelah wafatnya Bapak Datuk Ugok Syaifuddin Batubara yang menjabat Kepala Kampung Pasar I Natal, digantikan oleh Bapak Datuk Zainal Husin yang merangkap sebagai Kepala Suku Rao. Kemudian pada tahun 1970, jabatan Kepala Desa dipegang oleh Bapak Datuk Khairul Amin hingga tahun 1975. Tahun 1975 merupakan masa peralihan Desa Pasar I Natal menjadi Kelurahan Pasar I Natal dengan pengangkatan Lurah Bapak Syahril Hasan yang merupakan Lurah Pertama di Kelurahan Pasar I Natal. Sekitar tahun 1980, Bapak Misdar diangkat menjadi Lurah kedua menggantikan oknum Lurah Syahril Hasan yang wafat hingga pension nya pada tahun 2010 yang baru lalu. Akhirnya, pada awal tahun 2011 ini, Lurah Pasar I Natal dijabat oleh Bapak Amrin hingga sekarang.
Kelurahan Pasar I Natal berpenduduk ……. jiwa dengan luas wilayah….. KM persegi yang berwatas sebelah ;
- Barat berwatas dengan jalan Sutan Syahrir, jalan Multatuli dan jalan Pelabuhan, Kelurahan Pasar II Natal.
- Timur berwatas dengan Drs.HA Parwis Nasution SH sepanjang parit Anak Ayie Cama, Desa Pasar III Natal.
- Utara berwatas dengan Sungai Karan Desa Panggautan.
- Selatan berwatas dengan Sungai Batang Natal, Desa Pasar V Natal.
5
Adapun banguan-bangunan Pemerintah atau lainnya yang terdapat di Kelurahan Pasar I Natal antara lain sbb.;
1. Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Natal di Tanah Lapang.
2. Rumah Dinas Kapolsek Natal di Tanah Lapang.
3. Rumah Kontler Multatuli di Tanah Lapang.
4. Sekolah Polisi Pertama Sumatera Utara ( kini SDN No.142704 Natal).
5. Sumur Multatuli di Tanah Lapang.
6. Brand Kas Jepang di Tanah Lapang.
7. Rumah Gadang Pokok Aru di Pokok Aru.
8. Bank BRI Unit Natal di Pokok Aru.
9. Masjid Hajjah Fathimah di Simpang Ampek.
10. Bank Sumut Unit Natal di Simpang Ampek.
11. SMP Negeri 1 Natal di Simungkuk.
12. Sekolah Dasar Negeri No.142705 Natal di Simungkuk
13. Masjid Al- Amin di Simungkuk, Kampung Keramat.
14. Makam Syekh H.Abdul Fattah Sinantiku di Tampat, Pincuran Dewa.
15. Stasion Relay TVRI di Bukik Simungkuk.
16. Stasiun Pemantar Telkomsel di Bukik Simungkuk.
17. Stasiun Pemancar Indosat di Bukik Simungkuk.
18. Kantor Pengadilan Negeri Padangsidimpuan di Natal, Bukik Simungkuk.
Demikianlah Sejarah Kelurahan Pasar I Natal Kecamatan Natal Kabupaten Mandailing Natal diperbuat untuk dapat dimaklumi adanya.
Catatan :
Lampiran : Peta Kelurahan Pasar I Natal dalam Ulayat Jambuoh Rao.
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
Minggu, 27 Februari 2011
DESIR PANTAI RANAH NATA
DESIR PANTAI KERAJAAN
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
Datuk Imam dari Ujuong Gadieng
Mambaok dosanak ka Padang Malako,
Ratok gumam untuong nan santieng
Jauoh di sarak sanak sudaro
Rajo nan Sutan di Indopuro
Mambaok dosanak ka Linggobayu,
Apoko garan sanak sudaro
Maharok pintak kito batamu
Datuk Imam Rajo nan Sutan
Dari Ujuong Gadieng jo Indopuro,
Ratok bagumam sansaro badan
Carikan untuong santieng baleno
Padang Malako di Mudiek Ayie
Badakek jo suak Paku Lauik ,
Sanang sansaro ambiek jo rayie
Malakik awak maramu hiduik.
Dari Malako ka Kampuong Bukik
Tagak musajik di Tapieng Batu,
Badan sansaro manangguong sakik
Awak ba sakik manokan maju.
Kampuong Bukik jo Sawah Laweh
Ka sungei banamo Sawah Lambah,
Untuong basakik nan di patureh
Ma ungkei usaho di Ranah Nata.
Kampuong Bukik di lerieng bukik
Tampak nan dari Kampuong Pudieng,
Untuong basakin di erieng sulik
Sajak badiri guntuong jo sentieng.
Alah ba buni unggeh cancebo
Tando mugarib alah tibo,
Sudah ba uni Ranah Malako
Apo di lakik ba usaho.
Kontler banamo si Multatuli
Anak mudo dari Ulando ,
Geger bacinto si kandak hati
Adat mangato jo ugamo.
Upiek Ketek si anak Datuok
Umuo baru sa tungkuoh jaguong,
Adiek mengkek rancak di tampuok
Ukuo rindu sa rangkuoh dayuong.
LUKAH GILO
PERMATA
PERMAINAN REMAJA NATA
Oleh : Shaff Ra AlisyahbanaLUKAH GILO
Permianan ini adalah berasal dari Angku Abdul Halim Pandeka yaitu sebuah bubu yang dibuat menari-nari. Bubu didirikan dan diberi berpakaian seperti baju dan kupiah. Pemain melibaskan sepotong rotan ke lantai sambil menyanyikan lagu :
Sip ……..lukah ………asip )
Gilo …… lukah …… gilo ) 2 x
Indak bamban panjalin lukah
Tibo di lukah banyak abaginyo
Abagi – bagai tumbuoh di pagai
Kalapo tumbuoh di matonyo
Sungguoh batanyo ka nan langkei
Sungguoh bak nio bak katonyo
Anak singiang – ngiang rimbo
Basarang di buku tabu
Sungguoh bak nian bak katonyo
Kito baduo sajo tau
Pisang sasikek duo sikek
Sasikek di ateh abun
Anak bujang jolong ba ikek
Sungguoh bak bungo kambang alun
BABIBI-BIBI
Acara ini dimainkan oleh para wanita muda di siang hari dalam acara Tunghun Ka Ayie yaitu hari pertama si bayi Menginjakkan kakinya ke tanah. Babibibibi disenbandungkan para kaum ibu dengan irama kesenian daerah pesisir Nata Seperti Si Kambang, Si Mambang atau Sagu Jao.dengan pantun Desir Pantai yang berbau nasehat yang di iringi oleh musik talempong, aguong dan canang , antara lain :
Batang pauoh batang cubadak
Subaliek batang si kasumbo
Ayah jauoh anak taragak
Musim pabilo kan basuo
Lapeh nan dari belok Guguong
Mandapekkan belok Patupangan
Harago diri nak Bundo Kanduong
Malapehkan jerok dari tangan
Lapeh nan dari belok Bangei
Mandaki pulo belok Guguong
Leseh diri nak jago parangei
Harago diri Bunbdo Kanduong
BAJODEN
Bajoden hampir sama dengan Babibibibi , tetapi tidak mempunyai alat musik. Si anak di ayun dalam buayan.
Sambil mengayun anak, si ibu mendendangkan anaknya dengan pantun – pantun nasehat seperti halnya Babibibibi.
BAGALOMBANG
Bagalombang adalah Seni Tari yang merupakan seni Bela Diri di Ranah Nata yang terdiri dari Silek Padang dan Silek Balam. Permainan ini dipersembahkan dalam acara menyambut kedatangan Marapuley sesudah acara Arak Patang dalam acara Baralek, atau kedatangan tamu kebesaran. Permainan ini dimainkan oleh dua kelompok pesilat Ranah Nata dan sepasang pesilat jika Silat Padang atau Silat Balam
TUGHUN KA AYIE
Acara ini adalah dalam rangka untuk memberi nama kepada si anak dalamm rangka Bacukuo, Tughun Mandi dan Agie Namo.Si anak dibawa turun kebawah oleh Bidan Kampung dengan
berpakaian bagus yang digendong dengan Salendang Banang Ameh , Payuong Sitin, Colok Pusuong Barasam, sedangkan Paragat Tughun Ka Ayie ditaruh diatas Dulang ba Rangkok seperti cermin.sisir dan peralatan mandi.
Sesudah acara Tughun Mandi, dilanjutkan dgn
Bacukuo Rambuik dan dilanjutkan dengan Agie Namo yang disuguhkan Jamba Buek Namo. Setelah pemberian nama di fatihahkan, si anak dimasukkan dalam ayunan yang terdiri dari tali Kain Panjang dan Badan Ayunan Kati Jao dan penarik ayunan dengan Bungkuy Tarawang dan diayunan dengan Marhaban. Dibawah ayunan diletakkan se takar beras yang diatasnya dipancangkan sebuah telur ayam, sedangkan di dekat tangga dibakar daun Rumpuik Sauik.
BAGIMBA
Bagimba atau Tabuik dilaksanakan masyarakat kaum Syi’ah atau kaum Suluk, karena acara Bagimba adalah penutupan berakhirnya masa Suluk. Dalam acara ini diadakan Badikie, Badendang, Pencak Silat, Tabuik dan Tari Debus. Acara ini diadakan dalam rangka kegembiraan keluarnya para pesuluk yang disambut atau dijemput oleh sanak keluarga yang datang ke lokasi persulukan. Untuk wilayah Ranah Nata acara Bagimba diadakan seperti di Tabuyung,Singkuang,Buburan, Bintuas, Patiluban dan Jambuo Aceh.
SITINJOU
Sitijuo adalah permainan orang tua-tua di Ranah Nata yang dimainkan dengan 2 buah tonggak batang bambu yang pada ruasnya diberi bertopang. Permainan ini secara Nasional disebut main Rnggrang dengan mempertunjukkan kebolehan melangkah dengan kaki yang disambung dengan bambu bercabang itu. Biasanya parit yang berukuran 3 meter lebarnya ,bisa dilangkahi dengan Sitinjou.
Permainan yang sejenis ini ada juga terbuat dari tempurung yang bermata tiga, kemudian diberi tali sebagai tonggaknya.
TAMTAM BUKU
Main Ularnaga yang panjang di Ranah Nata dinamakan Tam-tam Buku yang hampir sama dengan permainan Kulik – kulik Gagak,tetapi setelah mengelilingi
yang dua orang sambil bernyanyi :
Tam – tam buku , cirewek banda limo.Pata paku pata dendieng , cari kawan tangkap Satu Tu…tu…tu…tu, tu …tu….tu…..tu ….
Lalu memasuki pintu gerbang si Bulan dan Si Bintang Bulan dan Bintang menangkap pemain yang terakhir dibelakang dengan menangkap tangannya
yang melingkar. Dalam penangkapan ini terjadilah soal jawab antara Ketua peserta dengan penangkap( Bulan dan Bintang )
Soal : Mangapo di tangkok anak kami ? jawab : Dipijaknyo tanah labu kami
Indak bulie di ganti ? jawab Indak
Ado sureknyo…. ? Masuok dalam sumuo , jawab Bulan dan Biontang !
Indak bulie di kaik ? jawabnya ; Indak !
Cubo kiloi …!!!
Lalu Bulan dan Bintang mengiloi dengan tangan keduanya sebagai tempat berdiri dan berkata dengan bilangan.Kemudian dia ditanya sebelah menyebelah, berpihak kepada Bulan atau Bintang ? Jika jawabnya Bintang, maka dia berdiri dibelakang Bintang dan begitu juga terhadap Bulan. Soal jawab ini sampai dengan habisnya semua peserta. Kemudian grup Bintang dan Bulan mengadakan Tarik Tambang dengan tangan mereka dengan memberi seorang sebagai umpan ke depan. Siapa yang tidak kalah, itulah yang menang.
NENEK KONTUIK
Permainan Nenek Kontuik biasa juga disebut Nenek Sendok yang dimanikan oleh wanita saja, tapi terkadang dimainkan juga oleh lelaki. Permainannya mula-mula membuat rangka rumah di atas tanah dengan membentuk lingkaran dan bertangga seperti bad tennis meja. Sesudah itu bari diadakan Sutan (Suit) dengan cara semua peserta menyerahkan telapan tangannya tertelungkup bertindihan. Pelaksanaannya diiringi dengan nyanyian, dimana setiap suku kata untuk satu tangan dan bagian suku kata yang terakhir, dialah sebagai Nenek Kontuik atau Nenek Sendok. Nyanyiannya hanya pendek sekali yaitu :
Cang kulelek togun – togun , siapo delek pai ka kabun
Setelah ditentukan siapa yang jadi Nenek Kontuik, maka salah seorang mengetok pinto dengan mengisyaratkan ketokan tangannya, lalu berkata ; “ Nek ….. Nek….! Bukak pintu ..! Nenek menjawab “ Siapo tu..?? dan disambut pula dengan jawaban… “ Ambo “, maka si nenek membuka pintu dengan bahasa isyarat dan terjadilah soal jawab sbb ;
Soal Nenek Kontuik : Apo mukasuik ? Kanapo api ? Kanapo badie – badie ? Mangapo di tembak ? Kanapo karo ? Kami dak nandak tudo ! Cubo naiek sa tingkek ! | Jawab Tamu : Mintak api Pamasang badie – badie ! Panembak karo ! Di makannyo padi kami Ka kawan nasi Kami nandak gulei ayam Sang tamu naik setingkat, lalu menyepakkan sebuah pelita yang berada di muka pintu sehingga padam, lalu tamu menanyakan kepada Nenek Kontuik : |
Soal Tamu : Mangapo padam palito ? Siapo namo nenek ? | Jawab nenek Kontuik : Angin di Barat ! Nenek Kontuik atau Nenek Sendok ! |
Semua peserta menyoraki sang Nenek dengan nama nenek berulang kali sehingga nenek marah dan mengejar mereka. Siapa yang dapat tertangkap, dia pula sebagai Nenek Kontuik dan demikianlah seterusnya. | |
KAMBING-KAMBING
Kertiga permainan ini hampir sama cara pelaksanaannya yaitu dengan membuat sebuah lingkaran yang besar. Dalam permainan itu ditentukan siapa Alang (Elang) dan Sikok (Garuda), siapa Kucieng (Kucing) dan Mancik (Tikus) atau siapa Kambieng (Kambing) dan Rimou (Harimau).
Semua peserta membuat lingkaran dengan berpegangan tangan satu sama lainnya. Setelah ditentukan siapa Sikok/Kucieng/Rimou sebagai pengejar yang berada diluar lingkaran atau pagar,
sedangkan Mancik/Alang/Kambieng adalah yang dikejar. Setiap diadakan pengejaran, semua yang menjadi pagar selalu menghalangi kejaran si pengejar dan terkadang si pengejar harus merompak pagar, agar mangsanya dapat diterkam. Bila dapat ditangkap,mereka bergiliran balik mengejar dan yang dikejar.
BASASI-SASI
Basasi-sasi adalah permainan antar dua kelompok yang di hakimi oleh seorang Hakim dan seorang Saksi. Permainan ini seperti Pesan Berantai yang ditayangkan TVRI beberapa tahun yang lalu. Sebelum permainan di mulai, nama peserta harus diketahui lebih dahulu dan jika ada yang sama harus ditambah sebagai embel – embel namanya seperti Udin Gapuok (Kelompok A) dan Udin Tenggi (Kelompok B).
Para pemain menyampaikan sebuah pesan kepada Hakim yang disaksikan oleh Saksi yaitu pesan menyebut nama salah seorang antara dua kelompok tsb. Bila kelompok A menyebut nama Udin Tenggi dan kebetulan yang akan menyampaikan pesan dari kelompok B adalah Udin Tenggi, maka kemenangan berada di pihak kelompok A dan kelompok B menggendong kelompok A dari tempat kelompok A ke kelompok B.
Demikianlah permainan ini berjalan terus menerus dan kelompok yang menang adalah yang sering didukung.
TUMBUK2 ALU
Sebelum permainan dimulai, terlebih dahulu diadakan Sutan (suitan). Siapa yang kalah, maka dialah sebagai Lasuong (lesung) dan yang lainnya adalah Alu (antan). Seluruh peserta menancapkan telunjuknya sebagai Alu kedalam genggaman jari yang kalah sebagai Lasuong sambil nyanyi bersama yaitu ;
Tumbuok – tumbuok si Alu , si Alu pijak ruso
Lalu bunyinyo ………pacakan taluo ciek !
Kemudian si Lasuong melepaskan genggaman jarinya,sedangkan peserta tetap menunjukkan telunjuknya,selanjutnya Lasuong meminjam Ladieng(parang) sambil berkata :
Nek ….. Nek ….. Salang ladieng ! Jawab Nenek : Kanapo ladieng ? (peserta)
Pamakuok Ula Gadang ! Lalu si Lasuong mematukkan tangannya kepada para peserta dan siapa yang kena diadalah menjadi si Lasuong pula.
BIAWAK KOMPONG
Permainan ini dilaksanakan sambil duduk-duduk, tetapi duduk harus sejajar dan merentangkan kaki kedepan. Setiap potongan kaki diberikan satu suku kata lagu dan suku kata lagu yang terakhir adalah potongan kaki dilipatkan. Lagu Biawak Kompong adalah ;
Sapu –sapu rangik , katigo nganyam – nganyam
Nganyam – nganyam tak badatiek, sari bombom katinggalan
Sikumpei , sikaro, naiekkan kate kudo
Naricik , Narico , ambiekkan panggali ubi
Indak ubi nan ta kali , takali si kayu bengkok
Kompong kaki , kompong tangan, di cakou Biawak Kompong.
Lagu ini dilagukan berulang-ulang hingga semua kaki kompong (dilipatkan)
JANG JENG KUIK
Jang Jeng Kuik adalah permainan santai yaitu setiap pemain mencubit bagian atas punggung tangan bertindihan sambil mengangguk-anggukkan tangannya dan bernyanyi :
Jang – jang Jeng Kuik , pilanduok barang – barang
Kamano umak si Jeng Kuik , pai manangguok ka subarang
Subarang ayie nan dareh , mandapek udang basapik
Yang dibagian atas adalah yang pertama melepaskan cubitannya dan setiap habis nyanyian giliran berikutnya melepaskan cubitan. Nyanyian ini selesai setelah semuanya terlepas dari cubitan
SIKUNCIL LEWE2
SI Kuncil Lewe-lewe adalah permainan mencari batu yang disembunyikan oleh salah seorang peserta untuk diterka oleh yang kalah yang pada waktu nyanyian dia berada dalam keadaan telungkup. Setelah diadan suitan, siapa yang kalah dialah yang telungkup dan pencari batu yang disembunyikan.
Semua peserta mengelilingi yang telungkup, sedangkan para peserta menyelentangkan telapan tangannya diatas punggung yang telungkup dan salah seorang sebagai komando memegang batu untuk dititipkan kepada salah seorang peserta. Mereka nyanyi bersama dengan lagu ;
Cik – cik mimik , bilalang katimaro
Inggok – inggok di batu licin, manggarak jo manggaro
Sikumpei , sikaro , naiekkan kate kudo
Saripa saripati , tokok mano nan barisi
Tak sikuncil lewe – lewe, tak si kuncil lewe – lewe
Tokok mano nan barisi …
Yang telungkup lalu bangkit dan para peserta memutar-mutar genggaman tangannya dan si pencaripun menerka peserta yang menyembunyikan batu itu. Bila terkaannya tepat, maka yang memegang batu pula yang mencari dan bila tidak tepat terkaan,kembali sipencai telungkup untuk mengulangi permainan hingga dia dapat menerka siapa yang menyimpan batu itu. Demikianlah permainan ini terlaksana tanpa mempunyai batas waktu untuk berhenti.
CONGKAK
Cong Kak daklam bahasa kerennya adalah Congklak dimainkan oleh putra putri di Ranah Nata. Pemainnya hanyalah dua orang saja. Cong Kak ada yang terbuat dari kayu dan plastik,tetapi dahulu dibuat pada tanah pasir yang mudah dilobangi. Cong Kak terdiri atas tujuh lobang sejajar dan dua lobang besar di kiri kanan sebagai rumah tempat buah. Setiap lobang berisi tujuh butir batu atau buah Kalalatei,jadi masing-masing pemain memiliki 49 butir buah yang ditaruh dalam rumah. Kemudian isi satu lobang dimainkan oleh siapa yang menang setelah suitan dan demikianlah terus menerus sehingga buah habis pada lobang yang kosong di bagian lobang teman. Tetapi, jika mati dirumah sendiri dan isi lobang yang setentang dengan itu menjadi milik sipemain tersebut. Demikianlah permainan itu suilih berganti dan diakhiri permainan apabila kesemuanya terkumpul buah pasa rumah masing-masing. Siapa yang terakhir menghabisi buah atau bermain,apabilia peroleh buah sama banyak,maka dialaha yang memulai permainan selanjutnya.
Apabila permainan selanjutnya terjadi perbedaan yang disatu pihak banyak yang Tapanggang alias kosong, maka yang berlebih buahlah sebagai pemenangnya dan dialah yang memulai permainan. Kemenangan adalah disebabkan banyak permainan Manembak yaitu buah mati ditempat sendiri dan lobang setentang banyak berisi buah. Demikianlah permainan yang mengasyikkan ini terlaksana sambil senda gurau yang ramah.
GALA PANJANG
Permainan ini biasanya dilakukan pada bulan terang di malam hari yang dimainkan oleh sejenis. Pada permainan ini terdiri dari dua kelompok yang sama banyaknya, minimal 3 orang dan selalu ganjil. Setiap orang menjaga galahnya masing dan yang akan memasinkan permainan berada pada bagian kepala diluar garis yang telah dibuat di atas tanah. Bagi pemain yang lincah ditempatkan pada Galah Panjang.
Para pemain menembus penjagaan galah oleh masing-masing penjaga sampai ke bagian belakang lokasi permainan dan kembali menembus garis pertahanan kembali ketempat semula. Bila semuanya pemain dapat menembus penjagaan dengan Masin, maka dialah sebagai pemenang dan kembali memulai permainan.
Jika ada pemainkan yang dapat ditangkap waktu melewati garis atau menginjak galah, maka permainan di anggap poci dan digantikan oleh yang menjaga galah.
Demikian permainan ini berlangsung tanpa dibatasi lama permainan.
BATBU-TABU
Batabu-tabu adalah jenis permainan kejar-kejaran yang terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok yang Barondok (sembunyi) dan kelompok yang mencari. Pada kelompok yang mencari, satu orang dipilih menjadi Tukang Jago Umbek dan selebihnya pergi mencari kawannya yang sembunyi hingga dapat. Sedangkan yang sembunyi berusaha mendapatkan Umbek secara sembunyi-sembunyi dengan memegang Tiang Umbek. Bila salah seorang mendapatkan Tiang Umbek tanda diketahui oleh Tukang Jago Umbek, berarti permainan mencari selesai dan masuk untuk pencarian tahap berikutnya.
Acara ini dibuka dengan nyanyian bersama yang berbunyi ;
Cak…. Cak peyieng , cak peyieng lumbo – lumbo
Sia dapek… , itu punyo
KULIK2 ALANG
Permainan ini biasanya dimainkan oleh putri – putri di Ranah Nata dengan berbaris berantai lurus sejajar dan dua orang berhadap-hadapan sambil memegang ujung tangan kanan dan kiri yang mirip seperti pintu gerbang. Semua peserta bernyanyi bersama-sama dengan nyanyian sebuah lagu yaitu ;
Kulik - kulik gagak , anak gagak di balakang
Balakang baliku , sa liku jalan ka Rao
Awo - awo icang , bapucuok mali – mali
Jagokan anak Bujang , Anak Gadih turun mandi
Mandinyo ka Solok , ba timbo daun pudieng
Balaki jo nan elok , baranak putieh kunieng
Akhir lagu ,semua peserta menjarangkan kakinya secara serempak dan urutan yang belakang sekali melemparkan sebuah batu diantara kangkangan kaki-kaki pemain, dan siapa yang kena kakinya oleh lemparan batu tersebut, maka dialah sebagai Pengejar, sedangkan yang lainnya lari menghindari dari kejaran itu. Tempat yang aman adalah jauh dari batu,tiang atau lainnya. Bila dua orang berdekatan, maka mereka berkata “ Baduo Kami Sadakek “, lalu yang mengejar mendekati dan yang berdekatan berpisah hingga jarak lebih dari satu depa. Bila tempat jongkok pemain kurang dari satu depa dari kawan atau batu dan tiang, maka mereka Dapek dan sekaligus dia pulalah yang menjadi pengejar.
SINGDUANG
Sinduang Simuntu Dayak adalah seperti permainan Ondel-ondelnya Betawi. Para pemainnya banyak seka li karena permainan ini menunjukkan berbagai etnis dan profil karya. Sinduang terbuat dari bambu yang di belah-belah lalu dibuat seperti tabung yang kecil bagian atasnya yang dibalut dengan ijuk enau.
Bagian kepalanya dibuat seperti kepala beruang,lalu ditambahkan pada bagian atas dan ditengah badan dibuat pula tangan-tangan yang pada bagian dalam badan Sinduang berfungsi sebagai tempat memikul dan memegang untuk dapat ditarikan sesuai dengan rentak musik yang disuguhkan.
Para pemainnya adalah laki-laki, tetapi sebagai Noni dikenakan pakaian perempuan. Sebagai pelambang etnis ditampilkan Pakaian Adat Daerah sebagai Penganten ( Anakdaro dan Marapuley ) dan lainnya, sedangkan untuk menunjukkan aneka profil ditampil kan sebagai petani, pelaut, palang merah, dokter, perawat,guru,polisi, tentara,satpam,satpol pp/hansip, pak pos dan lain sebagainya. Sebagai selingan ada pula sebagai Dewa yang bagaikan kupu-kupu me nyongsong mereka dengan menyelang-nyelingi para Tuan dan Noni.
Didalam permainan Sinduang, setelah munculnya per mainan Simuntu Dayah yang berpakaian serba buruk dan menakutkan,diadakan pula tarian permintaan orang rumah yang dikunjungi secara bergiliran seper ti Basandieng Duo, Tortor,Kuala Deli, Mak Inang P.Kampai,Tari Payung,Tari Salendang dan satu tarian ala Portugis yang dinamakan Tari Samba. Setiap sesi permainan dibayar sesuai dengan tarif yang telah di tentukan oleh Kelompok Main Sinduang ini. Permainan ini biasanya diadakan pada malam Puaso (Ramadhan) setelah shalat Tarwih,guna untuk pem beli pakaian baru menyambut Hari Raya Idul Fithri.
MARIAM BULUOH
Permainan amariam buluoh biasa diadakan pada malam 27 Ramadhan hingga malam Hari Raya Idulfitri oleh para Remaja Ranah Nata. Meriam buluoh ubu terbuat dari 3 ruas bambu, dimana bagian ujungnya tidak beruas dan dinding ruasnya di jebol agar supaya bisa digunakan. Kemudian pada bagian pangkal di buat lobang, lalu dimasukkan minyak tanah atau bensin kedalam dengan memakai sumbu kain. Apabila ruangan ruas penuh dengan uap asap, maka ketika dinyalakan akan meledak seperti meledaknya sebuah meriam.
BATANAK TANAK
Batanak – tanak adalah merupakan suatu permainan yang menunjukkan bakat seorang perempuan dan wanita yaitu pekerjaan memasak di dapur. Dengan bejana kulit lokan dan kulit kerang , anak memasak sesuatu dengan peragat masakana antara lain :
- Beras berasal dari pasir
- Lada berasal dari tanah liat yg digiling
- Minyak makan berasal dari daun pulut-pulut yang diremas.
- Air strop berasal dari pucuk jati atau bunga merah yang diremas.
5. Apabila diadakan didalam rumah berobah menjadi main Anak-anakan dengan atribut rumah tangga seperti meja kursi,rosbang dan lain sebagainya.
MASA,FAKTA & RIWAYAT ( SAFARI )
SAFARI
MASA ,FAKTA DAN RIWAYAT
Oleh : Shaff Ra Alisyahbana
JIRAT MALAKO :
Terdapat diseberang Gugung Perlak Talas Kampung Sawah Kecamatan Nata. Disini banyak terdapat makam dan diantaranya :
1. Makam Datuk Imam , Raja pertama Kerajaan Ranah Nata ( Malako ).
2. Makam Pangeran Indra Sutan , Raja pertama Kerajaan Linggobayu
3. Makam Datuk Basya nan Tuo, Raja kedua Kerajaan Ranah Nata.
4. Teuku Umar Hasyim asal Aceh
SUMUR BATU :
Terdapat di Banjar Aceh Perlak Talas Kampung Sawah Kecamatan Natal. Disini terdapat 3 buah sumur batu yang digali oleh Syekh Abdul Fattah Mardia yang kelahiran disitu sebagai penampung (besar), tempat wudhu’ (kodak) dan dibawahnya tempat mandi. Sumur penampung dihuni oleh Kura kura tunggal dan beberapa ikan tawar. Dahulu, tempat ini dikeramatkan dan tempat memasang dan membayar niat dan ramai dikunjungi pada Hari Raya Puasa 6 ( 7 Syawal ).
TUGU PROKLAMASI KEMERDEKAAN R.I
Terdapat disebelah Barat lapangan Merdeka Natal disamping meriam Stamford Rafles yang didirkan pada tahun 1945. Ketika terdengar berita Kemerde kaan RI, BS Farmansyah Sutan Botok menaikkan bendera Merah Putih , lalu ditembak oleh seorang serdadu Jepang yang berasal dari Ambon
KUALO TUO :
Terdapat di Jambuo Aceh Desa Pasar VI Natal sebagai batas dengan Kerajaan Sinunukan. Kuala ini tempat masuknya Biduk Tambangan (Ajung) rombongan Datuk Imam dari Air Bangis dan Pangeran Indra Sutan dari Indopuro pada awal abad ke – 17.
BUKIK COKONG SIMPANG AMPEK :
Terdapat di Bukik Simungkuk, Simpang Ampek Kecamatan Natal yaitu makam Lie Moo Kim. Makam lain adalah di Bukik Cokong di Pasar Kabun yaitu makam Keluarga Besar Sho Kim Liong, Sho Kantin Ho ( Abdul Hafiz ). Dll.
TAMPAT PINCURAN DEWA :
Terdapat di Tampat Pincuran Dewa , Bukik Simungkuk Kecamatan Natal, sekitar 300 meter dari Jembatan Karan. Disini terdapat makam Ula ma Ranah Nata seperti Syekh Abdul Fattah Sinantiku, Syekh Abdul Rauf Sinantiku dan Syekh Alwi. Orangtua mereka Si Jebak Rajo Barat yang berasal dari Payakumbuh masuk ke Ranah Nata melalui Muara Karan. Pada tahun 1985, terjadi musibah besar atas hilangnya sepasang siswa SMPN 1 Natal di hari kedua Ebtanas (Suyono-Suyati ) ,warga Transmigrasi Sikarakara.
BENTENG PORTUGIS :
Terdapat di Pasar Benteng, pinggir sungai Batang Nata, satu-satunya benteng yang tinggal dari beberapa benteng karena telah masuk kedalam sungai Batang Nata. Bangunan ini tinggal sebagi an lagi karena dijadikan perumahan penduduk atau gudang ikan. Perlu diadakan rehabilitasi atau pemugaran agar tidak punah ditelan masa.
BENTENG JEPANG :
Terdapat di tepi pantai yang kini hampir tengge lam ditelan masa. Benteng ini diperkirakan di bangun tahun 1942 (masuknya Jepang ke Ranah Nata). Benteng sejenis ini juga terdapat di pinggir pantai Pasa Jirak , dekat Jembatan Karan dan di Sawah Niru Kecamatan Natal. Sebagian sudah hancur ditelan perumahan penduduk dan masuk sungai Batang Nata.
TANGSI HITAM :
Terdapat di pinggir lapangan Merdeka Natal , sebelah Utara , tetapi kini sudah dirobah bangu nannya dan menjadi Rumah Tahanan ( Rutan ). Tangsi Hitam di bangun oleh Belanda pada tahun 1864 oleh Kontler WB Devidson.
Catatan : Artikel WC Terpanjang dalam buku Indonesiana Majalah Tempo.
MERIAM TUANKU RANAH NATA :
Terdapat di rumah kediaman Bapak Sutan Dur Muhayatsyah yang diperkirakan adalan meriam Tuanku Sutan Hiodayatsyah atau Tuanku Sutan Muhammad Nata.
KUBUR MADAM :
Terdapat di Simpang Badayuik, bekas perumahan Hulubalang Raja. Sekarang telah hancur dan men jadi Kantor PRPTE Disbun. Disini ditemukan pa pan nama Yohanna Petronella (1866), Pieter Meijer dan Pieter Leonard (1874 ) dan Mont Evens (1878).Dibongkar pada tanggal 27 Januari 1992 ,gara-gara adanya mimpi Porkas/ SDSB.
PAGAR BESI :
Terdapat di Bukik Lansano, lembah Bukik Bande ra Kecamatan Natal. Disini bermakam Syekh Abdul Malik Baleo Nata yang merambakkan Agama Islam ke Mandailing sampai ke Dalu-dalu.
BRAND KAS JEPANG :
Terdapat dimuka bangunan Sekolah Polisi I Sumatera Utara yang kini menjadi SDN No.142704 Natal. Brand Kas ini dibongkar pada tahun 1965 dan disitu banyak terdapat mata uang Jepang seperti gambar pisang dll.
MERIAM STAMFORD RAFFLES :
Terdapat di samping Tugu Proklamasi yang mengarah ke Ujung Rakat. Benteng ini dibangun tahun 1818 , sewaktu Stamford Raffles tiba di Ranah Nata.
SEKOLAH POLISI PERTAMA SUM.UTARA :
Salah satu bangunan arsitek Belanda yang sampai saat ini masih kuat , tapi atapnya sudah diganti dengan seng yang baru
SURAT TAMBAK
Terdapat di Pasar Tambak Ranah Nata yang kini bernama Masjid Al – Fattah Ranah Nata. Masjid ini didirikan oleh Syekh Alwi bersama Syekh Abd. Rauf dan Syekh Abd.Fattah Sinantiku. Tabek Surat Tambak adalah tempat keramasnya si Pamaga, Dukun yg masuk Islam via Syekh Abd.Fattah
RUMAH GADANG SINGKUANG
Rumah Kerajaan Singkuang terdapat disamping Masjid Kerajaan Singkuang yang telah diperbaharui, sebab yang aslinya sudah musnah dan berlokasi di tanah lapang Singkuang. Dari Rumah Gadang yang pertama yang terbuat dari tiang gading gajah dan sandi ikan paus itu dipindahkan oleh Raja Jasi Murung dan dibangunkan ke Rumah Gadang yang sekarang serta Masjid Kerajaan’
MAKAM RAJA SINGKUANG
Makam ini terdapat di kawasan pekuburan tanah wakaf yang sekarang masih terpelihara,walaupun sebagian sudah hancur. Diantaranya yang masih dapat terbaca adalah makam Raja Merangkat ,Jasa Murung dan Jandi Mora.
MASJID KERAJAAN SINGKUANG
Terdapat disamping Rumah Gadang Singkuang. Disampingnya terdapat sebuah makam panjang, tetapi tidak ada yang mengetahui siapa nama yang bermakam disitu.
MAKAM ULAMA BERANTAI.
Makam seorang Ulama terkemuka (besar kemungkinan makam Guru Habib Daulay) terdapat di kawasan Makam Kerajaan Singkuang.
BANGUNAN GAYA BELANDA :
Terdapat di Bukik Tanah Badagun Simpang Ampek dan di Pasar Kabun Ranah Nata. Rumah peninggalan Marah Salim , kini tinggal tanpa penghuni. Rumah peninggalan Mukti dihuni oleh zuriatnya.
MAHKOTA PENGANTIN ( CABANG ) :
Cabang adalah merupakan fakta Sejarah dimana Canag ini diriru dari topi Portugis,tapi mempu nyai beberapa unsur sejarah dimana terdiri dari tiga bagian yang berbentuk kuncup Melati yang melambangkan Tungku Tigo Sajarangan atau Tali Bapilin Tigo yang melambangkan 3 Raja di Ranah Nata yaitu Raja Adat ( Tuanku ), Raja Ibadat ( Ulama ) dan Raja Alim ( Pemerintah/Umara ) yang dibuat dimasa Permaisuri Puti Junjung.
SANGGUO GADANG :
Mahkota Pengantin Anakdaro Ranah Nata ini terdiri dari tujuh tajuk yang mengisyaratkan bahwa Anakdaro adalah pelambang Bundo Kanduong yang harus mempunyai Tujuh Sifat.
CAP RAJA RANAH NATA :
Terdapat dirumah kediaman Bapak Zumkhasri atau di Linggabayu Ranah Nata yaitu cap Tuanku Sembah Alam Marahimpun di Kerajaan Lingga Bayu.
BONGKAH EMAS :
Salah satu yang dicari oleh para saudagar Ero pah, Asia di Ranah Nata yang terkenal dengan lokasi Tambang Beramuk Ranah Nata yaitu tempat menggore emas sehingga terjadi perkelahi an dengan mengamuk.
KANTOR ASISTEN WEDANA
Bangunan ini sekarang tidak ada lagi dan telah berganti dengan Kantor Telekomunikasi Natal dengan arsitek terbaru. Mulai dari H.Syariful Alamsyah (1946 ) s.d. Hakimil Nasution BA (1978) Aswed berkantor disini.
BATANG MAHONI :
Terdapat di sekeliling lapangan Merdeka Natal sampai ke Jembatan Ayie Cama. Sebagian telah hancur ditelan zaman dan sebagian ditebang oleh orang yang melupakan Sejarah. Penebangan tera khir pada hari Minggu tgl. 15 April 2007
RUMAH NAN GADANG.
Rumah Gadang sebenarnya terdapat di Padang Malako dan Kampung Bukik, tetapi sekarang hanya tinggal puing-puing sandi dan pecahan keramik yang tertimbun di dalam tanah. Di sungai Batang Nata, pernah dijumapi ceret besi oleh penduduk Perlak Talas Kampung Sawah , tapi sekarang sudah raib tak tentu rimbanya.
Rumah Gadang yang asli
MADRASAH SOEBOELOEL CHAER ;
Madrasah Soeboeloel Chaer ini di dirikan pada tahun 1921 yang dikepalai oleh Sutan Chalifah. Madrasah ini bina oleh perkumpulan Djamijatul Chairijah yang diketuai oleh Tuanku Mudo. Madrasah ini berganti nama Budi Bahagia dan kemudian Madrasah Raudlatul Ilmiyah yang merupakan cikal bakal Muhammadiyah Cabang Natal. Sekarang bernama Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 20 Natal
JEMBATAN ACEH – RAO.
Jembatan ini berada di Kampung Solok, didepan Masjid Lama yang menyeberang ke Pasie Jaruju yang menghubungkan Jambuoh Aceh (Seberang) dengan Jambuoh Rao(Pusat Pasar Ranah Nata). Jembatan ini kemudian diterjang banjir Galodo yang akhirnya roboh dan sampai kini tetap sunyi senyap tanpa kelanjutan pembangunannya
MUARO KARAN :
Tempat ini mempunyai sejarah yaitu disinilah du lu masuknya Si Jebak Rajo Barat dan Sinantiku (orangtua Syekh Abd.Fattah) mendarat dari Tiku dan Payakumbuh.
Tempat ini juga disebut Muaro Susu untuk mengenang sepasang siswa SMP Negeri Natal yg terbenam dimuara ketika melintasinya disebab kan jembatan Karan runtuh. Suyono dan Suyati, warga Transmigrasi Sikarakara ketika hari kedua Ebtanas 1985.
PONDOK ULAR
Tempat ini adalah sejarah terbaru dimana se orang Putra Malako memberanikan diri membu ka tanah ulayat nenek moyangnya kawasan sebu ah perusahaan yang lahannya topang tindih. Di pondok ini dia bermukim dengan memelihara se ekor yang datang kesitu dengan peliharaan ayam putih sesuai dengan mimpi yang datang dari Jirat Malako Labuohan Ajuong – Kampung Sawah. Pondok ini dinamakan ULAR adalah singkatan dari Urusan Lancar bila Ada Rupiah.
Langganan:
Postingan (Atom)








